CERPEN ; LAGU DARI MEDAN oleh Bahar Adexinal

Kado buat : BANG DILLAH

( Sudah pernah dimuat pada Tabloid Media Mitra Kamtibmas, Edisi 19/Oktober 2009 dan Majalah “Horas” edisi perdana Maret 2008.)

Menjelang berakhirnya masa mudaku, aku mau semua yang pernah menjadi rahasia hidup tidak terungkap dalam satu fase yang memilukan. Sebab sepanjang perjalanan ini, ada banyak tersisa cerita duka dan suka yang saling bertautan. Aku hidup diantara berjuta himpitan persoalan yang tumpang tindih, tapi bukan tumpukan sampah yang tiada arti.
Sebalikya, setiap kali matahari memancarkan sinar merahnya diufuk timur, dan rerumputan ditinggalkan oleh embun berkelana. Maka akupun merasakan betapa beban itu menimpahku. Tapi bukan hutang, atau dosa berkepanjangan. Sekali lagi bukan.

Menangis pernah aku lakukan, untuk membuktikan bahwa aku punya nurani. Tapi tidak nangis sesenggukan seperti anak kecil minta permen. Atau tangisan sinetron yang menggambarkan adegan ditinggal mati kekasih.
Berakting aku pernah dalam membawakan lakon teater sebagai Letnan kenil dalam “Jiwa Tanah Air” bersama Dahri yang kini juga di penjara karena dikorannya ia mengungkap kasus dugaan korupsi. Kalau ingat pentas teater, terbayang wajah Darwis, Buoy, Yan dan Burhan.

Aku menangis sejadi-jadinya, sampai semua orang tidak percaya aku sedang manangis. Mereka bilang aku sedang menyanyi lagu merdu. Tembang kehidupan yang orang lain tidak pernah dengar syair dan iramanya. Aku menciptakan sendiri sesuatu yang orang lain terdiam, berdecak kagum.

Tapi yang terlontar selalu tembang dari Medan yang cukup kuhapal lagunya, berirama melayu dan mendayu-dayu. Aku jadi ingat Erwin yang gigih menggelar panggung akbar kesenian islami dan berbagai hiburan lainnya. Yang suka melantunkan lagu “Bentonya” Iwan Fals.

Tapi pilihanku masih yang satu ini … “jauh di saying”. Yang pernah dilantunkan oleh Charles Hutagalung
“Rindukah hatimu pada diriku…yang kini jauh dari dirimu… Walau diriku ingat selalu …kekasih hati yang kini jauh ….Kalaulah kita dapat bertemu …saat begini alangkah indah …. Sayang di sayang di pulau seberang … kekasih jauh dirantau orang ….”
“Jangan katakan aku suka !”

Tiba-tiba langit terbelah dengan cahaya merah menyambar dan bersautan. Suara bergemuruh menggelinding dari segala penjuru. Sejurus kemudian awan menggumpal hitam. Kabut putih bermain disekitar kelopak mataku. Kolap.
“Orang itu mengenal betul, siapa kau sebenarnya !”

Lagi, seperti ada benturan hebat menerjang dadaku. Bagai pukulan telak seorang petinju mengantarku terhempas kepojok dinding kamar. Seketika hitam menyelimuti pikiranku. Ribuan kunang-kunang berkejaran menari dan berdendang.
“Kau kehilangan arah !”

Ssssttt …sepi selanjutnya sepi tapi berubah jadi sunyi. Sesunyi-sunyinya malam tanpa cahaya dan suara ngengatpun.
“Kau masih bisa bangkit dan berteriak, lakukanlah. Aku akan bimbing kau pada cahaya menunjuk puncak kenikmatan !”
Bisikan itu selalu datang dan datang. Aku berusaha tegar seperti batu karang yang menahan hempasan ombak dibibir pantai. Duh, bila aku terjaga dari mimpi. Aku masih lelaki sejati yang punya mimpi-mimpi ketika tidur dan terbangun.
“Mari, melangkahlah dengan pasti !”
“Siapa kau ?”
“Sudahlah !”
“Maksudmu ?”
“Jangan katakan aku suka !”
“Artinya ?”
“Waduh, kok jadi tolol begitu !”
“Jangan menghina ya !”
“Dasar, goblok !”
“Kurang ajar kau. Enak saja kau bilang aku goblok !”
“Sok !”
“Apanya yang sok !”
“Kau sok hebat !”
“Suka hatiku-lah !”
“Sombong !”
“Apa-apaan kau ini ?”
“Mentang-mentang !”
“Apa ?”
“Aku tahu dari mana kau dapatkan uang banyak itu !”
“Oh … gitu aja kok repot !”
“Introspeksi, sadar bung !”
“Jangan ngatur kau !”
“Dasar bodat !”
“Eh, kamu sudah keterlaluan, menghina aku”
“Biarin !”
“Terus kamu mau apa ?”
“Apapun jadi !”
“Aku lapor kau ke polisi, kerena telah menghinaku, dan kau telah menuduhku yang bukan-bukan.Kau mencemarkan nama baikku. Aku tidak sudi. Aku mau tunjukkan pada dunia bahwa aku tidak bersalah. Jangan seenak perutmu kau berprasangka. Itu suhuzzon namanya, menuduh yang tidak-tidak. Aku protes. Sebab seumur hidupku tak ada yang berani menghinaku. Dasar kau penghianat !”
“Kau tidak akan pernah bisa menangkapku, atau menjebloskanku kepenjara. Sebab kau sekarang didalam penjara !”

Aku menatap langit-langit kamar sempit ini. Terasa berputar kencang. Tiba tiba beribu wajah bergantian menghampiri dan berteriak-teriak memanggil namaku.
“Bertahan bang … bertahan bang … apapun ceritanya abanglah yang terbaik !”
Suara itu saling berbenturan memekakkan gendang telingaku. Mengalahkan indahnya syair lagu ungu yang menjadi pavoritku, “ …andaiku tahu, kapan tiba ajalku, kuakan bermohon, Tuhan tolong panjangkan umurku …”

Derak suara laras sepatu opsir penjaga penjara bergemuruh. Mereka melangkah semaunya, menyeret paksa seorang tersangka korupsi yang telah menelan lembaran rupiah rakyatnya. Aku mendengar lamat-lamat suara bisikan itu menerjang telingaku lagi.
“Diam saja kau. Jangan sok jago !”
“Aduh, kok aku yang kau bilang sok jago!”
“Dulu , kau sok jago, sok suci, sok paten, sok hebat, sok jujur, sok-sok lainnya!”
“Kau salah menilaiku, lae !”
“Sejak kapan aku jadi lae-mu. Sok akrab !”
“Sialan kau. Aku sudah bilang kau salah menilaiku !”

Bam !. Suara pintu kamar berjeruji besi padu terhempas, suaranya mengiang.
“Saatnya makan siang !”
“Aku tidak lapar !”
“Jangan kau bohongi dirimu sendiri”
“Sudah dua hari aku puasa !
“Jangan mengada-ngada. Nanti kalau Ramadhan tiba saja kau puasa, lebih afdol”
“Sudahlah, aku sedang puasa !”
“Bagus ! Itu artinya kau telah menyadari bahwa perjalananmu masih panjang !”
“Jangan katakan aku suka ! “
“Aku tidak pernah mengatakan itu”
“Tapi kau seakan memaksaku untuk mengakuinya !”
“Apa sebenarnya yang telah kau lakukan ?”
“Aku menjadi imam korupsi berjamaah”
“Ah, yang betul kau ?”
“Itulah kesimpulannya !”
“Tidak, itu salah !”
“Kok Salah ?”

Lalu diam. Itulah yang kulakukan. Menundukkan kepala, menatap sajadah panjang yang terbentang dilantai kamar. Menghadap kiblat. Menyerahkan diri kepada Allah Subhanawataallah.

Tiba-tiba kerinduan itu begitu jauh terbang keangkasa biru. Bertemu bidadari bersayap putih, mengitari sorgawi. Aku tak tahan menahan air mata rindu. Rindu pada mereka yang kini bertahta dibalik nama-nama yang berubah-ubah. Aku menangis lagi.
Suara tersendat mengharap jawab. Tapi tak ada yang datang. Sepi seperti mati. Walau sesungguhnya aku tegar setegar batu karang yang menahan ombak ditepi pantai. Ternyata mengundang tarian anak dara yang melenggang
“ …kalaulah kita dapat bertemu …saat begini alangkah indah …sayang disayang dipulau seberang …kekasih jauh dirantau orang ….”
Tet …tereret …tereret ….tereret…tereret …tereret ….tereret …tereret ..
Suara seksofone menggetarkan tanah deli. Lantunan syair yang selalu kudendangkan, terus berkejaran melepas rindu.
Rindu kepada para staf, Kabag, Kadis, Camat,Lurah dan para Kepling.

Rindu pada jaka dara manis yag selalu menjadi pagar ayuku. Rindu pada kecipak ikan sapu kaca di sungai deli. Rindu pada gedung bertingkat yang menghalangi jalur pesawat terbang. Rindu pada makanan ringan yang dijajakan ditepi lapangan merdeka. Rindu pada pedagang pasar tradisional yang menjajakan dagangannya sampai memenuhi jalanan. Rindu pada para pedagang buku bekas di sebelah timur lapangan merdeka. Rindu orasi para buruh yang berunjuk rasa, rindu klakson dan makian supir angkot yang bersautan mengejar setoran.

Juga rindu pada jalan Raden Saleh yang dikembalikan menjadi dua arah setelah gagal dicoba satu arah. Soalnya macet di kesawan tak kepalang tanggung, tapi malah sekarang dipasang polisi tidur.
Juga rindu pada anak-anak PSMS yang hanya meraih raner-up pada Liga Indonesia setelah kalah dari Sriwijaya PC.Meskinya mereka bisa menang kalau aku ikut mendampingi mereka dan memberikan support.

Kasihan mereka menjadi ayam kinantan yang kehilangan induknya.Kedepan aku selalu berjanji akan carikan sponsor untuk kejayaan mereka kelak.
Dan paling rindu pada raungan mobil pemadam kebakaran, yang tiba-tiba menjerit-jerit dan menyemprotkan airnya kesegala penjuru arah dan menghempaskan jidatku bersujud. Aku terendam air bah. Padahal ketika itu tak ada yang kebakaran jenggot.
Aku tersenyum lagi ketika matahari tertawa renyah. Dan langit memerah darah, mengantarkan gemuruh cinta didada. Melakukan perselingkuhan pada nanah. Aku terpana berdiri tegak menunggu sahabatku yang bernama nasib.

Medan, 24 Februari, 2008.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *